search
top

Antara Saya, PKS, dan Perjuangan Dakwah

Kalau saja boleh ditanya siapa yang paling terpukul dengan adanya kasus korupsi yang menimpa petinggi PKS, tentu mereka adalah para kader dan simpatisan partai berlabel Islam ini. Dan saya adalah satu di antara mereka. Saya sudah ada menjadi bagian dari barisan partai ini sejak awal partai ini berdiri. Sejak pertama kali partai ini masih bernama Partai Keadilan (PK) tahun 1998, dan kemudian karena tak memenuhielectoral threshold berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tahun 2002. Sebelumnya, sejak tahun 1991, saya juga sudah bergabung dengan perjuangan dakwah kampus yang menjadi cikal bakal partai ini terbentuk.

Kalau juga boleh ditanya ke seluruh kader bagaimana perasaan mereka menghadapi gonjang ganjing berita mengenai prilaku para pemimpin (qiyadah) partai ini, tentu mereka akan sangat tersudut. Perasaan ikut malu, terhina, dan tercoreng menjadi beban semua kader yang selama ini telah begitu setia berjuang di jalan dakwah ini. Tanggung jawab kepada konstituen, orang-orang yang sudah begitu percaya pada perjuangan partai ini menjadi beban tersendiri bagi kader.

Meski karena keterbatasan saya, kini saya tak lagi terlalu aktif  menjalankan program partai, tapi saya selalu mengusahakan untuk hadir pada setiap kajian tausiyah mingguan bersama para kader. Berkumpul bersama teman-teman seperjuangan sekedar merecharge iman, dan menyambung silaturahmi. Sesekali mengadakan kegiatan yang sifatnya sosial, terutama saat terjadi bencana.

Bahkan pada saat Pilkada DKI 1, saat Adang Dani maju menjadi calon gubernur bersama Foke, kantor kecil saya dijadikan basecamp untuk berkumpul para kader wilayah daerah saya. Kami saat itu benar-benar berjibaku memenangkan beliau untuk bisa sampai pada kursi DKI 1. Siang malam kader bekerja. Tumpukan baliho, stiker, spanduk memenuhi kantor kecil saya. Kemudian memasang semua itu di jalan-jalan pada dini hari, juga turun untuk berkampanye langsung di jalan. Setiap tetes keringat dan lelah benar-benar hanya berharap pada imbalan ilahi. Tak ada sepeserpun uang yang dibayar untuk itu. Bahkan dengan rela hati ikut urun berinfaq. Begitulah militannya para kader dan juga simpatisan.

*************

Menjadi kader partai Islam sama artinya dengan mengemban amanah besar. Baju putih kami terlihat begitu terang benderang dan kami harus menjaganya agar tetap putih. Kami harus menjaga ahlak dan prilaku. Berdakwah bil hikmah wa mauidzotil hasanah. Berdakwah dengan hikmah dan teladan yang baik. Agar nama besar jamaa’ah itu tetap harum dan cemerlang, tak ternodai dengan prilaku buruk. Dan sepanjang yang saya ingat, dakwah ini sangat efektif mendulang simpati bagi lingkungan sekitar. Tanpa harus kita bersusah payah mencari konstituen untuk menjadi kader, mereka sudah dengan senang hati berminat menjadi simpatisan dengan selalu mendukung setiap kegiatan amal dan sosial kita bagi masyarakat sekitar.

Dulu, saya amat bangga menjadi kader partai yang mengusung slogan “Bersih dan Peduli” ini. Partai ini berjalan dengan misi yang sungguh mulia sejak awal. Platformnya dibuat begitu sempurna dengan cita-cita yang sungguh luhur. Dalam perjalanan kemudian, saya temui begitu banyak hal-hal yang mencoreng kemuliaannya. Akhirnya saya sadari kemudian, kumpulan partai ini adalah juga jama’ah manusia yang pasti tak maksum dari dosa. Tak satu kasus ini saja yang terjadi. Sebelumnya kasus pornografi yang menjerat anggota dewan ini tak kurang menjadi pukulan paling telak yang sungguh membuat siapapun kader shock.

Rasa malu akibat perbuatan para qiyadah partai ini bagai hantaman palu godam. Terkhusus saya. Mulut saya terkunci untuk bisa membuat sebuah pembelaan. Apa yang mau saya bela? Semuanya begitu jelas dan terang benderang bagi publik. Alih-alih membela, yang terjadi malah semakin menjadi bulan-bulanan masyarakat. Sama seperti yang terjadi saat ini. Saya memilih diam dan menunggu proses hukum berjalan. Toh, saya hanya orang awam yang memang tak mengerti duduk persoalan sesungguhnya. Sejujurnya saya tak ingin menjadi jamaah yang taqlid. Terkurung dalam fanatisme buta. Saya percaya tangan Allah mampu bekerja untuk menunjukkan sekecil apapun keburukan, sebaliknya juga, tak akan pernah alfa untuk setitikpun kebenaran.

Lalu apatiskah saya dengan semua ini? Tentu saja, perasaan masygul itu sempat menghinggapi hati saya. Saya bersedih atas apa yang sudah terjadi. Atas cercaan dan cibiran banyak orang akan kinerja partai secara keseluruhan, padahal saya tahu persis, partai ini diisi banyak kader-kader yang amanah dan tulus hati dalam bekerja. Benar-benar terpukul karena nila setitik rusaklah susu sebelanga. Semua kerja keras untuk mengharumkan nama partai ini menjadi mentah atas semua yang sudah terjadi.

Namun sedikitpun tak terbersit rasa sesal karena pernah mendukung perjuangan partai dakwah ini. Ketimbang sibuk mengutuk, saya memilih memetik pelajaran, bahwa adalah benar jika harta, tahta, dan wanita, memang ujian besar bagi pengemban amanah. Selalu ada orang-orang yang tergelincir menapakinya. Cukuplah saya mengambil hikmah.

Akhirnya saya hanya ingat satu hal. Bahwa kereta dakwah ini akan terus berjalan dengan atau tanpa kita. Hanya Allah saja yang memuliakan dan memurnikan perjuangan dien ini. Biarlah waktu yang membuktikan siapa-siapa yang bersungguh-sungguh di jalan dakwah. Mereka yang khianat tentu akan berguguran atas seizinNya.

.

Wallahua’alam bisshowab

.

*hanya curhat kecil seorang kader biasa

 

(http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/02/01/antara-saya-pks-dan-perjuangan-dakwah–524612.html)

12 Responses to “Antara Saya, PKS, dan Perjuangan Dakwah”

  1. ukhti98 says:

    demikian dgn saya, jauh sblm kasus ini sy putuskan u keluar dr liqoat. liqo tak lagi seperti dulu, terasa kering dan hy fokus utk acara partai..sekarang saya merasa malu identik dgn partai ini..hanya karena iman saja saya tdk merubah penampilan saya. saya berhijab krna perintah Allah bkn MR

  2. gendut says:

    Bismillahirrahmanirrahim….

    Ketika aku menyebut diriku PKS
    yang lain akan menuduhku sebagai pro demokrasi. Walau sebenarnya bukan itu tujuanku…

    Atau ketika aku bicara bahwa aku HTI
    yang lain akan bilang aku tidak mengimani adzab kubur, turunnya al mahdi, bahkan tidak mengambil hadits ahad, padahal aku bukan seperti itu.

    Dan ketika aku mengaku Jama’ah Tabligh
    oh no!! yang lain mencibirku karena aku meningalkan anak istriku sendirian, padahal tujuanku dakwah.

    Ketika aku mengklaim diriku SALAFY
    yang lain berteriak…”JANGAN SUKA MEMBID’AH-BID’AHKAN ORANG LAIN!!!!” padahal aku thau mana benar dan mana salah. Aku hanya ingin membetulkan.

    Aku memutuskan…
    Untuk berhenti sejenak…
    Menertawakan mereka yang merasa benar dengan jalannya masing-masing
    berfikir sejenak, mengapa ini bisa terjadi ? Bahkan disini! tidak ada lagi Ukhuwah Islamiyah! Yang ada hanya ukhuwah PKS-iyah, ukhuwah HTI-iyah, Ukhuwah Salafy-iyah, Ukhuwah JT-iyah dan semua Ukhuwah

    Ashobiyah lainnya yang jelas-jelas merupakan PERPECAHAN…
    Semua perdebatan yang katanya mencari “PENCERAHAN”
    Bisakah dirasakan “PENCERAHAN” nya ?
    Saya sama sekali tidak bisa merasakanya….Bagaimana dengan anda?

    Aku malu pada Rasulullah saw, karena aku sendiri tidak berdaya…
    Aku seorang MUSLIM. Ya, seorang MUSLIM
    Seorang mutarobby yang fikrohnya dipupuk oleh tarbiyah, tapi aku bukan PKS…
    Dan mencoba mencontoh apa yang dilakukan salafusshalih, tapi aku bukan SALAFY…
    Dengan kegemilangan islam dan khilafah sebagai tujuan, aku bukan HTI…

    Dan aku tahu…
    Dimana aku berpijak…
    Di situ ladang dakwahku….
    Tanpa harus menjelek-jelekkan orang lain….
    Karena aku seorang MUSLIM…. (kutipan dari blog seseorang)

    Saya meski udah ga ikut liqo lagi tetep membina hubungan baik dgn teman2 PKS, atas dasar kesamaan agama saja. Setiap sabtu pagi gabung dgn komunitas badminton PKS, sholat jamaah di masjid perumahan pun mayoritas diisi temen2 PKS….mereka bukan musuh, tapi umat yg harus disadarkan dan ditunjukkan realita kondisi pengelolaan partai ini sekarang, terutama di level Qiyadah

    • abanghasan says:

      ente udah futur
      saya juga pernah… tapi ga tahan dengan dunia luar … makanya masuk lagi liqo.. lapang lapangkan hati, bisa tingkatkan ibadah,,, bisa lebih kuat dengan dunia luar… qiyadahkan manusia,,,, yang bukan nabi pula… pastilah punya salah,,,, mendingan doakan saja supaya qiyadah kuat dan tetap pada jalnnya..

  3. robertinitahira says:

    Saya ngga tau apa itu tarbiyah,apa itu HTI,apa itu SALAFY apa itu FKP kecuali yg saya baca dari media.sungguh saya agak terkejut dengan munculnya website semacam Tarbiyah bukan PKS, ada apa ini? Setahu saya Tarbiyah ya PKS krn dari rahim Tarbiyah ini PKS lahir, kalau di kemudian hari ada yg berbeda pandangan harusnya perlu disikapi dgn toleran, toh PKS jg kumpulan orang2 yg tdk akan lepas dari salah dan khilaf, harusnya tidak perlu membentuk sempalan sempalan saat ada perbedaan saat di dalam PKS, dgn demikian orang luar seperti saya akan tetap menganggap bahwa PKS itu tetap solid dan Islam tetap utuh.saya masih berharap besar pd PKS utk bisa membenahi negeri ini,partai yg lain saya sangat tdk bisa utk berharap..tolong utk yg pernah bersama PKS, kalau sdh tdk mau bersamanya, biarkan mereka berjalan dan anda anda jg berjalan tdk perlu jegal menjegal atas nama kebenaran.

      • abanghasan says:

        basi…. kalau pks salah, emang ente yang benar… kan sekarng ga ada nabi… biarkan semua orang ikhtiar, jangan dijelek jelekin dong…. kita tidak tau takdir seperti apa yang diputuskan allah nanti… lebih baik banyak berdoa untuk kebaikan umat ini.. daripada blame sana blame sini…

        • admin says:

          Nabi memang sudah tidak ada, namun Nabi meninggalkan tuntunan kepada kita untuk diikuti. Ikhtiar pun harus berlandaskan kepada tuntunan Nabi yang telah diwariskan kepada kita sebagai umatnya. Memang benar sabda Rasulullah, “Jika kalian tidak memiliki rasa malu, bertindaklah semau kalian.” (Al hadits)

    • gendut says:

      @Robertinitahira: BERHARAPLAH HANYA PADA ALLAH SWT, bukan kepada partai yg merupakan produk demokrasi. Iyyaka na’budu wa iyyaka masta’iin (Hanya kepadaMU kami menyembah n hanya kepadaMU KAMI MOHON PERTOLONGAN).

      Antum/Anti liat media sekarang kan bagaimana rapuh dan kotornya parpol-parpol bermain mengumpulkan duit.

      Saya sudah membuktikan karena saya ikut terjun sbg staf di salah satu Kementerian, kasihan temen2 di Lembaga Dakwah Kampus, Rohis-rohis, n kader-kader di daerah, mereka baik2 n ikhlas2, mereka hanya kampanye n tsiqoh tanpa mengetahui bagaimana kondisi di level ELITIS/QIYADAH PKS…

  4. ahmad najib says:

    walloohul musta’an

  5. wong ma'ahid says:

    saya prihatin. PKS sekarang berubah menjadi lebih pragmatis. saya berharap agar para kader yang masih aktif di PKS bisa berjuang sekuat tenaga agar partai dakwah ini kembali ke khittoh semula. jangan mau kalah denga kubu pragmatis yang suka menghalalkan segala cara. rapatkan barisan, kuasai dewan syuro, lengserkan hilmi, kembalikan PKS menjadi partai dakwah lagi. ALLAHU AKBAR

    • syarifuddin says:

      ana setuju yang satu ini untuk kembali ke kithoh partai dakwah rapatkan barisan untuk menguasai majelis syuro kembalikan pks menjadi partai dakwah yg sesungguhnya….

  6. rudi waluyo says:

    semua menjadi kecewa karena klakuan para qiyadah dawah ini yg sudah tersibghoh dengan materialisme duniawi, awalnya untuk mewarnai masyarakat dengan kaidah keislaman akhirnya tidak berdaya dengan tarikan duniawi yg sngat menngiurkan.ya Allah hancurkan lah mereka yg sudah mengotori dawah al islam ini dengan menggantikan dawah partai untuk kesenangan paragtisme semu ALLAHU AKBAR.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


seven + 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

top