search
top

Kultwit: Kepemimpinan dan Keteladanan

“Sesungguhnya tidak berguna membicarakan kebenaran jika tanpa pelaksanaan.” – Umar ibn Khaththab ra.

“Dan jadilah teladan bagi manusia dalam kedudukanmu, penampilanmu, dan keputusanmu ..” – Umar ibn Khaththab ra.

Dua kutipan barusan adalah perkataan dari Umar ibn Khaththab ra dalam suratnya kepada Abu Musa Al Asy’ari ra selaku gubernurnya.

Kutipan pertama adalah sebuah pelajaran yang berharga, bahwa sumber keteladanan adalah kebenaran yang dilaksanakan, bukan sebatas wacana.

Betapa indahnya jika seorang pemimpin berbicara mengenai kebenaran, dan ia turut memberikan teladan dalam pelaksanaannya.

Kepemimpinan dalam Islam bukanlah sekedar orasi yang membuat mata menangis, atau geraham yang menggentarkan sanubari manusia.

Kepemimpinan dalam Islam ditunjukkan secara nyata, lugas dan benar, yang beranjak dari keimanan kepada Al Haqq yang penuhi hatinya.

Lihatlah bagaimana pemimpin yang sempurna memasuki kota yang ia menangkan tanpa perang dengan menundukkan kepala karena malu kepada Rabbnya.

Rasulullah tidak hanya ajarkan sifat tawadhu’ kepada para sahabatnya, namun beliau tunjukkan seperti apa itu tawadhu’ dengan keteladanan.

Menjadi teladan adalah salah saatu peran dalam kepemimpinan. Tanpanya, tidak ada ketaatan yang berasal dari pemahaman atas nilai kebenaran.

Islam bicara ketaatan kepada pemimpin, bukan seperti robot yang taat kepada perintah pemiliknya. Ini banyak disalahpahami oleh umat kita.

Perihal ketaatan kepada pemimpin harus berlandaskan pemahaman lurus dan benar, akan mana yang wajib ditaati dan mana yang wajib diingkari.

Karena itu dalam QS. An Nisa:59, dengan jelas menerangkan bahwa ketaatan kepada ulil amri didasari pada ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya.

Jika terjadi perselisihan maka dikembalikan kepada Al Quran dan As Sunnah sebagai hakim di antara pihak yang berselisih. Ini jelas.

Kepemimpinan yang menjadikan Al Quran dan As Sunnah sebagai landasan dasar adalah yang wajib ditaati, baik suka maupun tidak.

Dan kepemimpinan semacam inilah yang terlihat dalam keteladanan yang dijelaskan dalam kutipan kedua.

Yaitu menjadi teladan dalam kedudukan, penampilan dan keputusan, berlandaskan kepada kebenaran yang dilaksanakan oleh pemimpin tersebut.

Dalam hal kedudukan, seorang pemimpin menempatkan dirinya sebagai teladan bagi bawahannya. Bagaimana ia bekerja, bersikap.

Profesionalitas dirinya, kesungguhan dan pengorbanan dirinya terhadap kedudukan yang diamanahkan kepadanya, menjadi wasilah qudwah.

Akan lucu jika seorang pemimpin tampil dengan jabatan yang melekat dipundaknya namun tidak memiliki kompetensi untuk melakukan tugasnya.

Karena itu, setiap tugas yang diamanahkan, harus dilandasi dengan kaidah “the right man in the right position.” Bukan karena like/dislike.

Kita bisa melihat bagaimana Rasulullah tidak sembarangan menentukan tugas kepemimpinan pasukan kaum Muslimin untuk maju ke medan perang.

Siapa yang memimpin pasukan, siapa yang memegang panji bendera, semua ditentukan bukan atas dasar like or dislike, tapi kompetensi.

Kepemimpinan bukan sekedar berada di paling depan, tapi juga pengetahuan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi yang ada.

Keteladanan dalam kedudukan, memberikan rasa aman kepada pengikutnya, bahwa amanah yang diembankan kepadanya tidak tersia-siakan.

Lalu keteladanan berikutnya adalah perkara penampilan. Pemimpin berikan keteladanan dalam perkara ini yang akan tegaskan kepemimpinannya.

Bukan dalam arti seorang pemimpin harus berpenampilan paling wah, gress dan necis sebagaimana dipahami kaum materialis saat ini.

Tapi pemimpin harus berpenampilan menunjukkan kesahajaan dan nilai-nilai yang diusungnya sesuai kondisi keadaan yang dipimpinnya.

Mengapa penampilan itu penting? Karena pengikut akan terasa terwakilkan dalam penampilan sang pemimpinnya.

Ruh dari nilai-nilai yang diusung oleh si pemimpin dan yang diikuti oleh pengikutnya, akan terlihat dari bagaimana penampilan si pemimpin.

Inilah yang terasa jika kita melihat Rasulullah dengan para sahabat beliau yang mulia. Ruh Islam, keimanan berikut cerminan akhlaq.

Rasulullah bukan pemimpin yang bermewah-mewahan dalam penampilan. Demikian juga Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali, para khalifaturrasyidin.

Kesederhanaan mewarnai penampilan mereka, gerak-geriknya. Semuanya siratkan kecintaan mereka tidak terletak di atas dunia ini.

Umar, kemejanya diisi dengan tambalan. Ada satu pakaian bagus yang beliau kenakan untuk sholat Jum’at. Pakaiannya hanya dua itu saja.

Utsman ibn Affan ra, ketika seorang sahabatnya masuk ke dalam rumah beliau, ia bingung karena pakaian Utsman sama dengan budaknya.

Padahal Umar dan Utsman bukan tergolong sahabat yang miskin harta, dan keduanya adalah pemimpin besar kaum Muslimin sepanjang sejarah.

Inilah keteladanan pemimpin dalam hal berpenampilan sesuai dengan ruh nilai-nilai yang tercerminkan dalam Islam. Tidak butuh kemewahan.

Rasulullah dan khalifaturrasyidin, tidak bergelimang harta, berlomba dalam hal rumah mewah atau kendaraan mewah.

Beginilah keteladanan pemimpin yang dibutuhkan oleh umat Islam saat ini, dalam berpenampilan yang cerminkan akhlaq Islam.

Lalu yang berikutnya keteladanan dalam hal keputusan. Kita kembali lagi kepada bahasan awal yaitu kepemimpinan Al Quran dan As Sunnah.

Keputusan seorang pemimpin layaknya menjadi keteladanan bagi pengikutnya, maka ia harus berlandaskan kepada Kitabullah dan Rasulullah.

Keputusan tidak dibuat berdasarkan kepada syahwat, kehendak, kepentingan golongan, politik atau lainnya. Disinilah kebenaran terlihat.

Kebenaran akan percuma jika tidak terlaksanakan. Keputusan yang dapat diteladani adalah yang bersumber kepada kaidah tersebut.

Pertama, ia harus merujuk kepada kebenaran. Kedua, ia harus dilaksanakan baik oleh pengikutnya juga oleh pemimpinnya sendiri.

Sebuah keputusan yang tidak dilaksanakan oleh pemimpinnya sendiri menunjukkan ketidakadilan dirinya dalam memutuskan dan memimpin.

Dalam hal ini, kepekaan dan kebersamaan seorang pemimpin kepada pengikutnya akan terlihat dengan jelas.

Umar ibn Khaththab, ikut menahan lapar ketika kaum Muslimin dilanda paceklik yang berkepanjangan pada masa kepemimpinannya.

Kita bisa melihat dari sikap Umar, bahwa ia adalah pemimpin yang turut menyatu dengan rakyatnya, tidak terpisahkan menjadi kelas-kelas.

Rasulullah sungguh sebaik-baik teladan. Jika beliau temukan Fathimah anaknya mencuri, beliau akan tetap potong tangannya.

Tidak ada ruang untuk ambigu, paradoks atau ironi dalam kepemimpinan. Hanya ada kebenaran yang dilaksanakan.

 

4 Responses to “Kultwit: Kepemimpinan dan Keteladanan”

  1. saifullah says:

    pemimpin yg bersahaja adalah pemimpin yg dicintai dan abadi..Rasulullah SAW, Khulafaurrasyidin Ra, Imam Hasan Albanna Rohimahullah….mereka adalah sosok pemimpin abadi di hati Ummat ini…

    Izhad Fiddunya yuhibakallah, Wazhad fiima indannas yuhibakannaass…” Zuhudlah Didunia niscaya Anda dicintai Allah, dan Zuhudlah thd Manusia maka anda akan dicintai manusia…..(Alhadist)

    Kepemimpinan Ummat Islam akan kembali berjaya di abad ini jika Ajaran Kesahajaan dan kezuhudan dalam islam mampu ditampilkan kembali oleh mereka yg bermimpi menjadi pemimpin abadi di abad ini…..

    Jika Sebaliknya, mereka hanya akan menjadi pemimpin sesaat yg dibenci Ummat utk kemudian dilupakan dalam sejarah…

    • saifullah says:

      Pepatah Arab Mengatakan : ” Laa Yasluh Hadzihil Ummah Illa Bima Soluha Salafuhum” (Tidak Akan baik ummat ini, kecuali jika ia bisa melakukan apa yg menjadikan baik pendahulunya)

  2. Maulana Ikhwan Ahmad says:

    Kalau seandainya PKS masih dipimpin oleh pemimpin yang memberikan KETAULADANAN berdasarkan KEBENARAN QUR’AN dan SUNNAH, Insya Allah Saya dan Kel. Tidak Keluar / Mengundurkan Diri dari PKS…Tetapi Nyatanya Saya dan Kel Sudah Keluar Sejak 2009. Diperkuat Lagi Kondisi 2010, Munas di Hotel Yahudi, Menyakitkan Kader…Dan Sekarang Saatnya Allah Bukakan Semua Kebohongan Itu…Kasus Korupsi Suap Import Sapi…Buah Akibat PEMIMPIN TIDAK MEMBERIKAN TAULADAN, TIDAK MAU DINASEHATI DAN TIDAK MAU DIGANTIKAN !

    • admin2 says:

      Semoga Allah jauhkan kita dan keluarga kita dari sikap demikian. Semoga kebaikan dan ittiba’ kita pada al Quran dan as Sunnah tetap mendominasi sikap dan perilaku kita sehari-hari..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


two × = 6

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

top